Perempuan dan Pendidikan Tinggi



Hallo, aku Clarisa.
    Di sela hari-hari yang berjalan seperti biasa, aku sering merenung tentang pilihan hidup yang kerap dipertanyakan. Tentang bagaimana perempuan mengambil keputusan, tentang arah yang ingin dituju, dan tentang batas-batas yang tanpa sadar dibentuk oleh lingkungan. Dari kegelisahan itulah tulisan ini lahir tentang perempuan dan pendidikan tinggi, yang hingga hari ini masih sering dianggap berlebihan, dipertanyakan manfaatnya, bahkan disalahpahami tujuannya.

    Sejak kecil, banyak dari kita dibesarkan dengan narasi yang sama. Perempuan itu kodratnya 3M: macak, manak, masak. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi menjadi keliru ketika tiga hal tersebut dijadikan satu-satunya tujuan hidup, seolah perempuan tidak berhak punya ruang lain untuk tumbuh.

    Tanpa disadari, masyarakat kita masih kuat menganut budaya patriarki. Budaya yang menempatkan laki-laki sebagai pusat, pengambil keputusan, bahkan sering dianggap “raja” dalam keluarga. Laki-laki jarang diajarkan masuk dapur, karena itu dianggap bukan tanggung jawabnya. Namun ketika perempuan ikut mencari nafkah, itu justru dianggap wajar bahkan diwajibkan.

    Yang menyedihkan, kelelahan pun tidak dibagi secara adil.

    Laki-laki pulang kerja boleh langsung istirahat dan disiapkan makan. Perempuan pulang kerja tetap dituntut mengurus rumah, memasak, dan memastikan semua orang baik-baik saja baru setelah itu memikirkan dirinya sendiri. Seakan lelah perempuan adalah sesuatu yang bisa ditunda.

    Di tengah realitas itu, pendidikan perempuan sering dipertanyakan manfaatnya. Untuk apa sekolah tinggi-tinggi?. Padahal, perempuan berpendidikan tinggi tidak selalu bertujuan untuk menjadi siapa-siapa.

    Sering kali, tujuannya sederhana agar ia mampu mendidik anak-anaknya dengan pikiran yang jernih, nilai yang kuat, dan sudut pandang yang luas. Agar ia tidak hanya mewariskan kebiasaan, tapi juga kesadaran. Agar generasi berikutnya tumbuh dengan empati, nalar, dan keadilan.

    Kalau kemudian perempuan itu menjadi seseorang yang besar, punya karier, atau prestasi itu adalah bonus. Bukan syarat utama. Sayangnya, masih banyak yang memandang proses belajar perempuan sebagai pengisi waktu kosong. Seolah pendidikan hanya berharga jika langsung terlihat hasilnya. Padahal belajar juga bisa menjadi cara seseorang menata hidupnya, menyeimbangkan waktunya, dan bertumbuh tanpa harus berisik menjelaskan tujuannya pada semua orang.

Perempuan berpendidikan bukan ancaman.
Perempuan yang memilih belajar bukan berarti menunda hidup.
Ia hanya sedang menyiapkan dirinya dengan caranya sendiri.

Aku percaya, pendidikan adalah bentuk cinta jangka panjang. Untuk diri sendiri, untuk keluarga, dan untuk masa depan. Dan semoga suatu hari nanti, perempuan tidak lagi harus menjelaskan kenapa ia ingin belajar lebih jauh. Karena keinginan untuk tumbuh seharusnya tidak perlu pembenaran.

    Perempuan berpendidikan tinggi sejatinya sedang mempersiapkan diri untuk mendidik generasi berikutnya. Mendidik anak dengan nalar, empati, dan kesadaran. Jika kemudian ia menjadi sesuatu yang besar, itu hanyalah bonus. Karena esensi dari pendidikan bukan hasil akhirnya, melainkan proses bertumbuhnya.

Sayangnya, proses sering kali tidak dihargai.

    Kita hidup di masyarakat yang gemar membandingkan. Ada yang baru lulus langsung bekerja, lalu dijadikan standar. Padahal setiap orang punya garis waktunya sendiri. Ada yang setelah lulus perlu waktu mempersiapkan diri, menguatkan bekal, menata arah. Ada yang berjalan cepat, ada yang berjalan pelan tapi penuh pertimbangan. Semua valid. Semua layak dihargai.

    Namun perempuan sering kali tidak diberi ruang untuk proses itu. Ketika ia belajar, ia ditanya hasil. Ketika ia berproses, ia dianggap mengulur waktu. Ketika ia belum “jadi apa-apa”, ia diremehkan. Seakan hidup perempuan hanya sah jika langsung terlihat produktif di mata orang lain.

Padahal tidak semua hal baik harus buru-buru.

Belajar juga bentuk ikhtiar.
Menyiapkan diri juga bentuk tanggung jawab.
Berjalan pelan bukan berarti tidak bergerak.

    Perempuan yang memilih pendidikan sedang berusaha adil pada dirinya sendiri. Ia ingin tumbuh, ingin memahami hidup lebih dalam, ingin hadir utuh bukan hanya sebagai pelengkap, tapi sebagai manusia seutuhnya.

Perempuan berpendidikan bukan ancaman.
Perempuan cerdas bukan pembangkang.
Dan perempuan yang memilih belajar lebih lama bukan berarti tidak tahu arah.

Ia hanya sedang berjalan di jalannya sendiri.

    Semoga suatu hari nanti, perempuan tidak lagi diminta memilih antara mimpi dan perannya. Tidak lagi ditanya “nanti mau jadi apa?” melainkan dihargai karena keberaniannya bertumbuh. Karena sejatinya, setiap perempuan berhak belajar tanpa harus merasa bersalah, tanpa harus terus membuktikan apa-apa.

Clarisa

Komentar